Rabu, 20 Januari 2010

Semakin Langkanya Rumah Adat Mamasa


Foto : vibizlife / joey coal

Sering sekali ketika kita mendengarkan kata “Rumah adat’, mungkin yang muncul dalam pikiran kita hanyalah sebagai suatu peninggalan leluhur yang pelestariannya seakan-akan sebagai beban untuk generasi kita bukan lagi sebagai simbol kewibawaan sehingga tidak lagi ada yang menarik perhatian untuk di lestarikan bahkan dikembangkan. Bagaimakah menurut kita sebagai ahli waris dari simbol kebudayaan, Apakah memang benar bahwa pelestarian atau bahkan pengembangan rumah adat hanya sebagai beban ataukah sebaliknya?, kita dapat kembali mengangkat derajatnya dan menempatkan sebagai simbol dari kewibawaan bangsa?

Keberadaannya dengan berbagai bentuk simbol kehidupan suku bangsa itulah yang membedakan suatu suku dari suku-suku yang lain. Dan salah satu simbol kehidupan yang tidak terpisahkan dari keberadaan sebuah suku adalah rumah adat. sebagai tempat berteduh dan pusat kegiatan keluarga sekaligus sebagai simbol kewibawaan. Suatu contoh dapat kita lihat dari kebudayaan rumah adat orang – orang Mamasa banua layuk yang mempunyai daya tarik dan sekaligus dapat dijadikan sumber daya yang bisa kita banggakan.

Sesungguhnya Ada beberapa jenis dan tingkatan Rumah Adat Mamasa sebagai berikut:


1. Banua Layuk

Berasal dari kata “Banua” berarti rumah; kata “Layuk” berarti tinggi, maka “Banua Layuk” artinya “Rumah Tinggi”, yang sangat berukuran besar dan tinggi, biasanya pemilik rumah tersebut merupakan pemimpin dalam masyarakat atau bangsawan.


2. Banua Sura

Kata “Sura” berarti “Ukir” jadi “Banua Sura” berarti “Rumah Ukir”, besar dan tingginya tidak seperti banua layuk. Penghuni daripada rumah merupakan pemimpin dalam masyarakat dan bangsawan

3. Banua Bolong

Kata “Bolong” berarti “Hitam”. Rumah ini dihuni oleh orang kaya dan pemberani dalam masyarakat.

4. Banua Rapa

Rumah Mamasa dengan warna asli (tidak diukir dan tidak dihitamkan), dihuni oleh masyaraakt biasa.

5. Banua Longkarrin

Rumah Mamasa yang bagian tiang paling bawah bersentuhan dengan tanah dialas dengan kayu (longkarrin), dihuni juga oleh masyarakat biasa

Rumah adat Mamasa bernama Banua Layuk yang berlokasi di Rantebuda, Buntukasisi. Orobua, dan Tawalian kesemuanya dalam wilayah Kecamatan Mamasa. Rumah adat Mamasa merupakan simbol eksistensi suku toraja mamasa saat ini, yang semakin lama semakin terkikis oleh arus perubahan jaman. Pada dasarnya rumah adat Mamasa hampir mirip dengan rumah adat Toraja, perbedaannya yaitu rumah adat mamasa memiliki atap kayu yang berat dengan bentuk yang tidak terlalu melengkung sementara rumah adat Toraja memiliki atap kayu dengan bentuk seperti huruf ‘U’. Dan selain itu, masyarakat Mamasa tidak memiliki terlalu banyak upacara adat sebagaimana di Toraja.

Secara struktur Banua Layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), Secara fungsional bentuk rumah panggung dapat digunakan untuk menghindari gangguan binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan kolong dapat berfungsi praktis.

Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masayarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk.

Betapa kayanya keaneka ragaman budaya yang bangsa kita miliki dan itu semua merupakan harta peninggalan dari leluhur kita yang harusnya kita dapat kembangkan dan lestarikan.Tetapi akankah simbol kehidupan orang-orang Mamasa ini akan tetap bertahan? ataukah akan tersingkirkan oleh bangunan-bangunan modern yang kelihatan lebih kokoh tapi tanpa makna? Semua terletak di tangan kita sebagai generasi penerus bangsa…. (febi supit/AS/bd)

Sumber :
http://vibizlife.com/travel_details.php?pg=travel&id=13821
27 September 2009

Akses Jalan Menuju Mamasa Buruk

Kondisi jalan menuju kota Mamasa, Sulawesi Barat hingga kini masih sangat memprihatinkan, meski secara umum telah mengalami sedikit perubahan dari tahun-tahun sebelumnya.

Wakil Bupati Mamasa H Ramlan, mengatakan kondisi pembangunan infrastruktur jalan provinsi menuju ibu kota Mamasa itu telah mengalami peningkatan, meski diakuai kondisi jalan tersebut hingga saat ini masih sangat memprihatinkan akibat masih banyak jalan yang berlubang dengan belum selesainya pembangunan infrastruktur di wilayah itu.

"Akses jalan menuju kota Mamasa masih sangat parah, belum lagi kita harus melewati jalur pegunungan berkelok yang sana sini terdapat jurang cukup terjal," ucapnya, Sabtu (12/12).

Ia menuturkan, pembangunan infrastruktur jalan ke wilayah Mamasa telah menghabiskan dana APBD dan APBN pada tahun anggaran 2009, sekitar Rp67,5 miliar untuk mendukung pengembangan infrastruktur di daerah hasil pemekaran kabupaten Polewali Mandar. Ramlan mengungkapkan, dari total dana pembangunan infrastruktur itu untuk menutupi pembiayaan 9 (sembilan) program pokok baik perbaikan jalan provinsi maupun jalan dalam kota.

"Jika akses jalan tidak bagus, perekonomian di daerah ini akan mengalami kondisi stagnan atau jalan di tempat. Kami berpikir 2010 akan kami upayakan dapat merampungkan," tukasnya.

Karena itu, pihaknya meminta agar pemprov Sulbar dalam mengalokasikan pendanaan pembangunan banyak diarahkan ke wilayah Mamasa untuk mempercepat pembangunan di daerah itu. "Untuk mempercepat pembangunan di Mamasa, pemprov hendaknya mengarahkan kegiatan proyek fisik ke daerah Mamasa, apalagi PAD mamasa masih sangat kecil," tambahnya. (Ant/OL-06)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/12/111126/128/101/Akses-Jalan-Menuju-Mamasa-Buruk
12 Desember 2009

Budaya Maritim : Sandeq dan Kearifan Lokal Suku Mandar


Majene di Sulawesi Barat kembali disebut-sebut menyusul keberhasilan pengangkatan kotak hitam pesawat Adam- Air beberapa waktu lalu. Wilayah yang didiami etnis Mandar ini sempat hilang dari ingatan selama puluhan tahun. Di era 1930-1980, Majene dikenal sebagai kampungnya pelaut ulung berperahu sandeq.

Sandeq adalah perahu layar tradisional khas Mandar. Sekilas, sandeq terkesan rapuh, tetapi di balik itu ternyata tersimpan kelincahan. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter. Di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang.

Sandeq mengandalkan dorongan angin yang ditangkap layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong sandeq hingga kecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting, kappal, dan bodi-bodi.

"Kalau diibaratkan orang, sandeq berlari dan perahu lainnya berjalan," ujar Muhammad Ridwan Alimuddin, peneliti sandeq berdarah Mandar.

Horst H Liebner, peneliti sandeq asal Jerman, menilai, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dan secepat sandeq yang menjadi perahu tradisional tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh, sandeq tangguh mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan.

Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para ’insinyur’ sandeq tampaknya sangat cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan. Sebab, Teluk Mandar memang langsung berhadapan dengan laut dalam tanpa penghalang, dengan angin kencang dan gelombang besar.
Sandeq harus bisa melaju cepat mengejar kawanan tuna yang sedang bermigrasi. Saat musim ikan terbang bertelur, nelayan menggunakan sandeq untuk memasang perangkap telur dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut.

Ikan dan telur ikan menjadi andalan utama ekonomi keluarga nelayan Mandar. Kepada pedagang perantara, para nelayan menjual telur ikan terbang bisa mencapai Rp 300.000 per kilogram, meski tahun ini hanya Rp 180.000 per kilogram.

Selain memburu rombongan ikan tuna dan cakalang, para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar.

Dilombakan

Saat libur melaut karena kendala cuaca, nelayan Mandar biasa mengisi waktu dengan menggelar lomba sandeq. Dulu, lomba hanya mengadu kemampuan manuver. Setiap sandeq harus memutari area yang dibatasi tiga titik.

Lomba ini membutuhkan kejelian membaca angin dan menentukan teknik manuver. Di sini nelayan diuji kepiawaian sebagai passandeq.

Lomba sandeq masih bisa disaksikan hingga saat ini dalam Sandeq Race, seperti digelar pertengahan Agustus lalu dengan mengambil rute Mamuju di Sulawesi Barat ke Makassar di Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil laut.

Ribuan orang tumpah ke pantai untuk menyaksikan sandeq dari desanya bertanding dalam pesta tahunan nelayan Mandar yang kini sudah menjadi agenda tahunan itu.

Bila dirunut ke belakang, sebenarnya adu cepat sandeq sudah ada sejak 1960-an. Dulu, lomba itu disebut lomba pasar, karena sandeq disewa oleh para pedagang untuk mengangkut barang dagangan ke setiap pasar di desa pesisir antara Majene dan Mamuju. Waktu itu, jalur laut sangat vital karena lebih cepat daripada transportasi darat yang masih terbatas.

Kecepatan sangat dituntut oleh pemilik barang agar tiba di pasar yang ada di setiap desa lebih awal, sehingga sandeq langsung bisa parkir di dekat pasar untuk meraup sebanyak-banyaknya pembeli. Passandeq (awak sandeq) yang lambat tiba pasti akan dimarahi pemilik barang karena pasar sudah sepi, sehingga garang tak laku.

Akan tetapi, kecepatan dan ketangguhan sandeq juga bisa menjadi sasaran gerombolan perompak. Karena itu, para pemilik perahu yang tahu perahunya cepat mengakali dengan mengikat batu supaya tidak direbut para perompak untuk dijadikan sarana kejahatannya.

Sepak terjang perompak ber-sandeq terbukti saat Horst berlayar menggunakan sandeq ke Bira, Sulawesi Selatan, pada pertengahan 1990-an.

"Orang Bira masih ingat kehebatan sandeq karena semua kapal layar bisa dikejar oleh sandeq. Kalau saat ini masih ada gerombolan, orang Bira mau menukar pinisinya dengan sandeq," ujar Horst.

Pelestarian budaya

Lomba sandeq profesional dirancang oleh Horst pada tahun 1995. Sandeq Race merupakan usaha untuk melestarikan dan meneruskan budaya bahari Mandar yang terancam punah. Sandeq mengajarkan nelayan muda untuk membaca arus, membaca angin, serta ritual yang ada di dalamnya.

Lomba ini gratis bagi nelayan Mandar, dan disediakan hadiah mencapai Rp 20 juta untuk juara umum. Semua peserta yang mencapai titik akhir juga memperoleh hadiah uang. Selama 10 hari mengikuti lomba, passandeq ditanggung biaya makannya, dan diberi uang untuk keluarga yang ditinggal.

Firdausy, passandeq dari Desa Pambusuang, Polewali Mandar, mengatakan, lomba sandeq mengandung unsur kebanggaan yang sangat tinggi. Pemenang lomba akan terangkat status sosialnya, dan menjadi buah bibir di masyarakat.

Kebanggaan sebagai passandeq itulah yang mendorong Firdausy merogoh Rp 30 juta untuk membuat sandeq yang khusus digunakan untuk lomba. Di luar lomba, sandeqnya hanya disimpan di kolong rumah panggungnya. "Setiap bulan kita cat ulang supaya awet. Kalau sudah dekat perlombaan, sandeq dikeluarkan untuk latihan hingga hari perlombaan," ujar Firdausy.

Sandeq Race yang telah 10 kali digelar merupakan usaha untuk melestarikan budaya bahari Mandar. Sebab, sejak awal 1990-an prahu bercadik ini makin hilang dari Teluk Mandar, dan digantikan perahu motor.

Dengan perlombaan itu, jumlah sandeq terus bertambah. Tahun ini, 53 sandeq ikut Sandeq Race. Beberapa di antaranya adalah sandeq baru.

Sumber :
AGUNG SETYAHADI
Kompas 07 September 2007, dalam :
http://makassarkota.go.id/content/blogcategory/37/152/index.php?option=com_content&task=view&id=633&Itemid=143

Orang Mandar Orang Laut


Banyak orang yang tinggal di luar Sulawesi bagian Selatan menganggap pelaut ulung dari kawasan itu adalah orang Bugis. Namun, menurut Christian Pelras, penulis buku The Bugis, pelaut ulung di kawasan itu adalah orang Mandar.


Dalam buku ini penulis membeberkan hasil pengamatannya terhadap tiga karya cipta kebudayaan bahari Mandar yang biasanya dioangkat sebagai ciri keulungan mereka sebagai pelaut, yakni: perahu layar (sande), menangkap telur ikan terbang (motangnga) dan rumpon (roppong).

Disusun sebagai catatan perjalanan, buku ini memperlihatkan bahwa ketiga ciri itu sudah ditinggalkan oleh nelayan Mandar. Tapi, perubahan ini bukan mencerminkan pudarnya keulungan Mandar di laut. Keulungan bahari orang Mandar di laut sebenarnya bukan terletak pada karya ciptanya, melainkan pada daya cipta mereka untuk terus-menerus menyesuaikan diri terhadap gelombang perubahan zaman.

Sumber :
Buku : Orang Mandar Orang Laut
Penulis : Muhammad Ridwan Alimuddin
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) 63S12505|23, dalam :
http://www.gramediashop.com/book/detail/9789799100276

Mamuju Utara, Surga Baru di Bumi Sulawesi

Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat bakal menjadi surga baru di belahan Bumi Sulawesi. Paling tidak, itulah sebutan yang tepat bagi kabupaten yang baru berusia lebih empat tahun ini.

Kabupaten ini sebelumnya, adalah bagian dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Tapi berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2003, kabupaten ini kemudian berdiri sendiri di bawah Provinsi Sulawesi Barat.

Bupati Mamuju Utara, Abdullah Rasyid, akhir pekan lalu, menjelaskan, kabupaten yang berpenduduk sekitar 102.322 jiwa ini memiliki sejumlah potensi yang sangat menjanjikan, mulai dari perkebunan hingga minyak dan batu bara."Hanya saja, infrastruktur kita yang belum memadai," katanya.

Menurut Abdullah Rasyid, saat ini Kabupaten Mamuju Utara memiliki luas lahan konsesi kebun kelapa sawit sebesar 42.370 hektar, luas areal yang menghasilkan sebesar 31 ribu hektar, dengan kapasitas produksi 640.300 ton per tahun dan dengan Produktivitas sebanyak 20,65 ton per tahun.

Selain itu, kelapa sawit milik masyarakat yang berproduksi seluas 10.550 haktar, dengan kapasitas produksi 211.000 ton per tahun dan dengan produktivitas 20 ton per hektar. Belum lagi kelapa dalam dengan luas areal produksi 24 ribu ton per hektar.

Lahan pertanian seluas lebih dari 160 hektar atau sekitar 43,70 persen dari luas kabupaten itu, lahan kebun kakao 28.000 hektar dengan produksi 0,6 Ton per hektar per tahun, serta hutan yang seluas 162.428 hektar atau lebih 50 persen dari luas Mamuju Utara. Karena itulah, masyarakat setempat lebih menjadikan pertanian dan perkebunan sebagai tumpuan hidup mereka.

Tidak hanya itu, Bupati Mamuju Utara, menjelaskan, ada tiga blok sumur minyak di daerahnya yang sekarang dalam tahap eksplorasi, yakni Blok Pasangkayu, Blok Surumana dan BLok Kuma. Eksplorasi minyak itu akan dilakukan oleh Marathon International Petroleum Oil, PT. Exxon Mobile dan PT Pertamina.

Untuk Marathon International Petroleum Oil, kata Bupati, memiliki lahan konsesi seluas 4.707,02 kilometer persegi, dengan nilai investasi tahap pertama lebih Rp 700 miliar. Perusahaan ini akan melakukan dua tahap eksplorasi. Tahap pertama akan berlangsung selama enam tahun dan akan diperpanjang lagi. PAda 10 tahun kemudian, perusahaan ini sudah dapat menghasilkan minyak dari antara 20 sampai 30 sumur di kawasan itu.

Bupati Abdullah Rasyid mengatakan, untuk PT Exxon Mobile, telah melakukan kegiatan serupa di Kabupaten Mamuju Utara yang juga akan mengolah Blok Migas Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara sejak Maret 2007 lalu.

Tahun ini, perusahaan tersebut akan melakukan survei seismic dengan luas wilayah sekitar 1.750 kilometer persegi, sedangkan luas blok wilayah eksplorasi sekitar 4.200 kilometer persegi. "Perusahaan ini akan melakukan pengeboran tiga sumur minyak sampai satu tahun ke depan," ujar Bupati Mamuju Utara.

Hanya saja, menurut Bupati Abdullah Rasyid, infrastruktur di daerahnya masih sangat terbatas. Hotel dan penginapan hanya ada dua, belum lagi soal energi listrik yang hanya bisa beroperasi delapan jam per hari.

Lantaran itu, pihaknya telah berupaya menggandeng sejumlah pelaku usaha untuk mendorong pembangunan infrastruktur di wilayah itu agar menjadi lebih baik. Antara lain yang sudah dijajaki adalah PT Citra Nuansa Elok (CNE) Palu dan Perusahaan Daerah Kota Palu. Dua perusahaan ini, kata Bupati Mamuju Utara, akan membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH)

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan hotel. Pihaknya, kata Bupati, sengaja menggandeng dua perusahaan di Palu ini, karena selain dari segi jarak tempuh yang sangat dekat, yakni hanya sekitar 120 kilometer dari Pasangkayu--ibukota Mamuju Utara, dua perusahaan ini telah terbukti berhasil membangun PLTU Palu dan Mall Tatura Palu.

"Dari pengalaman mereka itulah, kami sengaja mengundang mereka untuk membicarakan soal rencana pembangunan infrastruktur tersebut," kata Bupati Abdullah Rasyid.

Karman Karim, direktur Utama PT Citra Nuansa Elok, mengatakan, pihaknya akan membangun PLTMH di Mamuju Utara minimal satu mega per 1 turbin. Nilai investasinya nanti sekitar Rp 13 miliar. Nilai investasi sebesar itu, akan menjadi tanggungan bersama antara PT CItra Nuansa Elok, Perusahaan Daerah Kota Palu dan Pemerintah Kabupaten Mamuju Utara.

"Dalam waktu dekat, kami bersama Pemerintah Mamuju Utara segera membuat fisibility study, selanjutnya pekerjaan segera kami lakukan. Kami tidak sekadar membangun PLTMH saja, tapi sekaligus dengan mengurusi izin dan segala tetek bengek lainnya," kata Karman Karim.

Meski masih dalam tahap membangun berbagai sarana dan prasarana, tapi pemerintah setempat telah berani melakukan gebrakan positif dengan memberlakukan pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat di daerahnya. Tidak pandang bulu, apakah masyarakatnya miskin atau kaya, yang pasti kalau mereka berobat di rumah sakit atau puskesmas,

semuanya tidak dipungut biaya. Padahal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2007 di Mamuju Utara, hanya sekitar lebih Rp 265 miliar dan Pendapatan Asli Daerah lebih Rp 20 miliar.

Pertimbangannya, menurut Bupati, pihaknya telah menganggarkan sebanyak Rp 14 miliar dari APBD Mamuju Utara di bidang kesehatan, sementara pendapatan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (rumah sakit) hanya sekitar Rp 90 juta per tahun.

"Jadi, antara pendapatan dan subsidi sangat tidak seimbang, sehingga saya mengambil kebijakan, lebih baik digratiskan saja," ujar Bupati Abdullah Rasyid.

Dengan begitu, walaupun usianya masih seumur jagung, tapi kabupaten ini paling tidak telah menjadi surga bagi masyarakatnya sendiri. Dan dalam waktu yang tidak lama lagi, setelah tiga blok minyak di Mamuju Utara itu sudah mulai dieksploitasi, maka Mamuju Utara akan menjadi Surga Baru di Bumi Sulawesi.

Sumber :
http://ochansangadji.blogspot.com/2008/01/mamuju-utara-surga-baru-di-bumi.html
14 Januari 2008

Profil Kabupaten Mamuju Utara

Wilayah Mamuju utara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat, secara geografis terletak di 0o40 10 -1o50 12 LS dan antara 119o25 26 - 119o50 20 BT. Daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Donggala provinsi Sulawesi Tengah di utara, Kabupaten Luwu Utara di timur, Kabupaten Mamuju di selatan, dan selat Makasar di barat. Luas wialayah daerah ini adalah 304.375 Ha. Secara administratif, daerah ini terbagi menjadi 4 Kecamatan dan 33 Desa. Hingga tahun 2006 memiliki jumlah penduduk 98.035 jiwa yang terdiri dari 50.500 jiwa pria dan 47.535 jiwa wanita, dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,81%. Dilihat dari segi ekonomi, total nilai PDRB menurut harga konstan yang dicapai daerah ini pada tahun 2006 sebesar 425.734,42 (dalam jutaan rupiah) dengan konstribusi terbesar datang dari sektor pertanian 49,88%, disusul kemudian dari sektor industri pengolahan 34,22%, dan dari sektor jasa 7,41%.

Dearah ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor perkebunan dengan komoditi utama yang dihasilkan daerah ini berupa kelapa sawit, kelapa dalam, kelapa hibrida, kopi arabika, kopi robusta, jambu mete, cengkeh, kakao, dan lada. Untuk kegiatan pertanian di daerah ini, hasil utama yang dihasilkan berupa bahan tanaman pangan yang meliputi: padi, tanaman holtikultura dan palawija. Kelapa sawit merupakan komoditi unggulan daerah ini sudah terdapat 2 pabrik pengolahan kelapa sawit, dengan keberadaan pabrik ini memungkinkan menyerap tenaga kerja dari penduduk setempat dan meningkatkan hasil produksi kelapa sawit ini. Di sektor pertambangan daerah ini juga memiliki hasil tambang berupa minyak bumi yang dikelola oleh PT. Exson Mobile. Pembangunan sub sektor peternakan diarahkan untuk untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat akan makanan yang bergizi , disamping itu juga unutuk meningkatkan pendapatan peternak, populasi ternak yang berkembang di Kabupaten Mamuju utara adalah ternak sapi, kerbau, kuda, kambing, dan babi, sedangkan untuk jenis unggas adalah ayam kampung, ayam ras, dan itik lokal.

Dari hasil pertanian dan perkebunan ini berdampak besar juga terhadap perdagangan. Perdagangan menjadi tumpuan mata pencaharian penduduk setelah pertanian. keberadaan infrastruktur berupa jalan darat yang memadai akan lebih memudahkan para pedagang untuk berinteraksi sehingga memperlancar baik arus barang maupun jasa, daerah ini juga telah memiliki dua buah Pelabuhan utama yaitu Pelabuhan khusus Tanjung Bakau dan Pelabuhan Khusus Boemanjeng, serta terdapat berbagai sarana dan prasarana pendukung diantaranya sarana pembangkit tenaga listrik, air bersih, gas dan jaringan telekomunikasi.


Sumber Data:
Sulawesi Barat Dalam Angka 2007
(01-8-2007)
BPS Provinsi Sulawesi Barat
Jl. KH. Ahad No. 9, Mamuju, 91511
Telp (0426) 21116

Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=7624

Mamuju Tengah Perlu Dimekarkan

Tim ad hoc DPD-RI Kabupaten Mateng, Ishak Pambumbu Lambe menyatakan, Pemekaran Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) dari Kabupaten induknya Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) adalah sebuah kebutuhan yang harus dilaksanakan.

Hal tersebut dikatakan Lambe di Mamuju, Minggu (2/8), saat meninjau kesiapan Kabupaten Mateng yang terletak sekitar 100 kilomter dari Kota Mamuju, ibu kota Provinsi Sulbar bersama enam orang Tim adhoc DPD-RI lainnya terdiri dari Kafrawi Rahim (Ketua), Jamila Samad, Ratu Cici, Muh Said, Markus Lois Zanggonau, dan Nursamsi Hafid (anggota).

Ia mengatakan, Kabupaten Mateng adalah sebuah wilayah yang sangat luas, sekitar 3.086,27 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 96.248 jiwa, cukup menunjang sebagai Kabupaten baru, namun karena belum dimekarkan. Kini, wilayah ini masih tertinggal dari segi pembangunan.

Oleh karenanya, lanjutnya, pemekaran Mateng yang akan dilakukan ini, adalah sebuah kebutuhan untuk menyejahterakan rakyat di wilayah ini, dan bukan hanya keinginan sekelompok masyarakat yang mengambil untung dari pemekaran ini.

\"Pemekaran Mateng bukan sekadar keinginan tetapi sudah menjadi kebutuhan, selama ini masyarakat Mateng yang memiliki kekayaan alam dari sektor pertanian seperti kakao harus menjual hasil pertaniannya itu dengan harga murah yakni Rp 2000 per kilogram karena tidak bisa mendistribusikan dengan baik akibat jalanan yang rusak dan jelek,\" katanya.

Oleh karena itu, pihaknya akan memperjuangkan pemekaran Kabupaten Mateng tersebut menjadi sebuah daerah otonom baru sebagai perjuangan aspirasi untuk kesejahteraan rakyat.

Melalui pemekaran tersebut, pembangunan akan lebih cepat dilaksanakan agar rentang kendali kekuasaan dan pemerintahan untuk mengatur roda pemerintahan masyarakat dari segi ekonomi dapat lebih menyentuh.

Ia berharap masyarakat Mateng juga dapat bersatu memperjuangkan pemekaran wilayahnya ini. \"Tokoh politik Mateng, mesti sepakat bahwa perjuangan Mateng bukan perjuangan pribadi, melainkan untuk perjuangan rakyat menuju kesejahteraannya,\" ujarnya.

Sumber :
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/08/03/02583650/mamuju.tengah.perlu.dimekarkan, dalam :
http://plod.ugm.ac.id/plodugm/index.php/berita/369-mamuju-tengah-perlu-dimekarkan-
3 Agustus 2009